Elektronika dan Telematika
Industri elektronik, khususnya berarti elektronik konsumen
muncul pada abad ke-20 dan kini telah menjadi industri global bernilai
miliaran dolar. Masyarakat kontemporer menggunakan segala macam
perangkat elektronik yang dibangun di pabrik-pabrik otomatis atau
semi-otomatis dioperasikan oleh industri.
Ukuran industri dan penggunaan bahan beracun, serta kesulitan
daur ulang telah menyebabkan serangkaian masalah dengan limbah
elektronik. Peraturan internasional dan undang-undang lingkungan telah
dikembangkan dalam upaya untuk mengatasi persoalan ini.
Industri elektronika dan telematika merupakan salah satu sektor yang
memiliki pusaran pasar yang cukup tinggi. Secara pendapatan dan pusaran
uang, sektor ini menduduki nomor lima di bawah sektor migas,
pertambangan dan pangan. Tahun ini, sektor tersebut dinilai masih
menjanjikan untuk dikembangkan.
Senior Manager
Business Development Polytron, Joegianto menjelaskan, Polytron menilai
bisnis elektronika dan telematika masih menjanjikan. Hal ini ia lihat
dari demografis indonesia dan Asia Pasifik yang masih menjadi pasar
menjanjikan.
INDUSTRI ELEKTRONIKA DI ASIA
Industri elektronik menjadi industri yang paling cepat berkembang, termasuk di Asia. Negara-negara di Asia seperti Vietnam, India, Indonesia, dan sebagainya menjadi magnet bagi pembentukan industri elektronik karena upah buruh yang murah selain berlimpahnya bahan baku bagi industri elektronik itu sendiri. Dalam industri elektronik, perusahaan-perusahaan manufaktur di negara-negara berkembang seperti Indonesia, Vietnam, Thailand, mengerjakan pesanan (biasanya pengerjaan komponen-komponen produk-produk elektronik) dari perusahaan-perusahaan elektronik pemilik lisensi yang berbasis di negara-negara maju seperti Korea dan Cina. Industri elektronik dikenal sebagai industri yang paling sukses dalam membangun rantai pasokan di seluruh dunia. Selain itu, 50% ekspor elektronik pun berasal dari negara berkembang dan negara-negara berkembang, khususnya negara-negara yang tergabung dalam ASEAN merupakan target pemasaran produk-produk elektronik yang paling potensial.
Industri elektronik menjadi industri yang paling cepat berkembang, termasuk di Asia. Negara-negara di Asia seperti Vietnam, India, Indonesia, dan sebagainya menjadi magnet bagi pembentukan industri elektronik karena upah buruh yang murah selain berlimpahnya bahan baku bagi industri elektronik itu sendiri. Dalam industri elektronik, perusahaan-perusahaan manufaktur di negara-negara berkembang seperti Indonesia, Vietnam, Thailand, mengerjakan pesanan (biasanya pengerjaan komponen-komponen produk-produk elektronik) dari perusahaan-perusahaan elektronik pemilik lisensi yang berbasis di negara-negara maju seperti Korea dan Cina. Industri elektronik dikenal sebagai industri yang paling sukses dalam membangun rantai pasokan di seluruh dunia. Selain itu, 50% ekspor elektronik pun berasal dari negara berkembang dan negara-negara berkembang, khususnya negara-negara yang tergabung dalam ASEAN merupakan target pemasaran produk-produk elektronik yang paling potensial.
Samsung, perusahaan elektronik yang berpusat di Korea Selatan
itu, merupakan pemain kunci dalam industri elektronik global selain
Apple dan Foxconn. Sebanyak 20% GDP Korea berasal dari Samsung dan
secara global, jumlah pekerja Samsung diperkirakan mencapai 800.000
orang pada tahun 2010. Samsung menyadari bahwa kekuatan buruh yang
terorganisir menjadi ancaman bagi keberlangsungan bisnis mereka.
Indonesia pada masa Orde Baru yang mengeluarkan kebijakan
larangan impor produk-produk elektronik yang sudah jadi dan menarik
perusahaan-perusahaan asing masuk ke Indonesia sebagai join venture
partners dari perusahaan-perusahaan lokal. Pada akhir tahun 1978, ekspor
elektronik Indonesia meningkat dan mengambil 15% dari total ekspor
manufaktur Indonesia. Pada tahun 1990, melalui kebijakan May Package,
ekspor elektronik meningkat setelah kebijakan deregulasi tersebut
berhasil menarik masuk investor dari Jepang, Korea Selatan dan Taiwan ke
Indonesia. Indonesia pun menjadi layer atau lapisan ke empat dari
industri elektronik dan masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara
Asia tenggara lainnya seperti Filipina, Malaysia, dan Thailand.
Perkembangan industri elektronik di Indonesia pun tidak dapat
dilepaskan dari kecenderungan perkembangan ekonomi global dimana
pabrik-pabrik direlokasi ke tempat-tempat atau negara-negara dengan upah
yang lebih murah (global factory). Kebijakan pintu terbuka oleh negera
yang mengurangi intervensi negara dan halangan struktural untuk masuknya
modal asing menjadikan industri elektronik sebagai prioritas ke dalam
industri sejak tahun 2008. Insentif yang diberikan pemerintah berupa
tersedianya buruh murah di Indonesia menarik 250 perusahaan elektronik
dengan 10 perusahaan besar elektronik (4 diantaranya merupakan
perusahaan dari Jepang, 2 dari Korea Selatan dan 1 perusahaan dari Cina)
untuk beroperasi di Indonesia. Perusahaan-perusahaan pemasok komponen
elektronik pun berada dalam satu kawasan yakni di Cikarang – Bekasi,
untuk membentuk rantai pasokan yang terintegrasi sehingga dapat
mengurangi ongkos distribusi.
Di India, perkembangan industri elektroniknya tidak bisa
dilepaskan dari perkembangan ekonomi India dimana fase terpenting dari
pembentukan industri elektronik di India terjadi pada fase liberalisme
dan globalisasi setelah tahun 1990. Kebijakan Zona Ekonomi Khusus yang
hanya mendorong sektor jasa (dalam bidang IT&ITES) dan tidak
mendorong sektor manufaktur mempengaruhi perkembangan industri
elektronik di negara yang merupakan kekuatan ekonomi terbesar ke empat
di dunia tersebut. India hanyalah pemain kecil di Industri elektronik
global. Nilai tambah di industri elektronik India tidak besar, yakni
hanya berkisar 5-10%. Industri manufaktur yang menyerap lapangan paling
banyak di India ialah industri makanan, rokok, tekstil, serta kimia dan
bahan-bahan metal. Sementara sektor elektronik sendiri hanya
memperkerjakan 1,6% dari total pekerja di sektor manufaktur. Sebuah
fakta menarik bahwa meskipun India bukan pemain yang signifikan di
industri elektronik dalam perbandingan dengan Korea Selatan dan Cina,
sehingga pertumbuhan pabrik elektronik di India pun tergolong tidak
tinggi, namun India memiliki problem e-waste atau sampah elektronik yang
sangat mempeihatinkan. Problem e-waste atau sampah elektronik yang
mengancam lingkungan ini memang menjadi salah satu masalah penting di
India karena setidaknya, pada tahun 2012, sebanyak 800.000 ton sampah
elektronik berada di India.
Proses integrasi dan perubahan ekonomi dunia juga berdampak pada
perkembangan industri elektronik di Vietnam. Proyek-proyek besar dalam
industri elektronik di Vietnam tidak dapat dilepaskan dari masuknya
Vietnam dalam keanggotaan World Trade Organization (WTO). Adapun pemain
kunci dalam industri elektronik di Vietnam ialah Samsung Electronics,
Canon, Intel, Panasonics, Nokia, dan Jabil Circuit (JBL). Begitupun
dengan yang terjadi di Malaysia, proses integrasi dan perubahan ekonomi
dunia menjadikan Multi National Corporation (MNC) sebagai pemain kunci
dalam industri elektronik di Malaysia. Strategi ekonomi Malaysia dalam
bidang industri khususnya ditujukan untuk menarik investasi asing,
terutama dari Inggris, juga berlaku dalam industri elektroniknya.
Investasi asing yang meningkat khususnya pada kurun waktu 2007-2011
membuat 365 perusahaan elektronik tertarik untuk beroperasi di Malaysia.
Sementara itu, Taiwan, menempati posisi di level global sebagai
high-tech industri tapi dengan low margin manufacturer. Salah satu
suppliers top dunia untuk brand HTC dan Samsung, yakni Young Fast
Optoelectronics (YFO) berada di Taiwan.
Pembentukan industri elektronik di Thailand tidak dapat
dilepaskan dari fase pertama industrialisasi di Thailand pada tahun
1960. Thailand merupakan yang terbesar di ASEAN dalam basis produksi
elektronik bagi MNC-MNC dari negara-negara seperti Jepang, Korea,
Amerika, dan Eropa. Manufaktur menyumbangkan GDP Thailand terbesar yakni
sebesar 39%. Di Thailand, pada tahun 2012 terdapat 2.304 pabrik
elektronik. Free Trade Area (FTA) di Thailand juga mempengaruhi
perkembangan industri elektronik di Thailand dimana ekspor elektronik
terbesar terjadi pada tahun 2011 yakni sebesar 13,3%.
Sejak tahun 1970an, bangkitnya industrialisasi dan pertumbuhan
ekonomi di Asia Timur menjadikan Jepang sebagai pusat pabrik elektronik
global. Jepang mengambil porsi dominan dalam industri elektronik pada
tahun 1990an dan industri elektronik di Asia Timur sendiri menyumbang
porsi 53,3% dari total produksi di seluruh dunia. Pada perkembangannya,
terjadi pembagian kerja yang baru dimana 3 negara industri elektronik
baru memproduksi bagian-bagian, komponen-komponen untuk di ekspor ke
Cina untuk disusun menjadi produk final dan kemudian diekspor ke Asia
Timur. Jatuhnya industri elektronik di Jepang, selain dipengaruhi oleh
krisis ekonomi pada tahun 2008, juga dipengaruhi oleh
peristiwa
gempa bumi pada tahun 2011 yang menimpa distrik Tohoku yang merupakan
basis produksi penting dari beberapa perusahaan manufaktur di Jepang.
Peristiwa gempa bumi di Tohoku ini menyebabkan banyak pabrik mengalami
kerusakan serius dan akibatnya menggangu rantai pasokan. Perubahan pada
industri elektronik di Jepang pun dipengaruhi oleh berubahnya model
pembagian kerja secara global dimana sebelumnya dilakukan secara
vertical intergrated seperti yang terjadi pada perusahaan manufaktur di
Jepang, dimana mereka memproduksi semua bagian dan komponen hingga
menjadi produk jadi dalam satu pabrik. Sementara saat ini, model
pembagian kerja dalam industri elektronik yang berkembang secara global
ialah model horizontal integrated, dimana proses produksi hingga
menghasilkan produk jadi dilakukan melalui beberapa perusahaan dan
pabrik.
"Demografis masih oke, kita produksi banyak, ekspor juga. Kita fokus juga ke industri kita di R&D (research and development).
Peluang pasti ada, 40 tahun lagi kita yakin akan bertahan, 2019
starting point buat riset kita," ujar Joegianto di Kementerian
Perindustrian, Kamis (21/2).
Meski masih
menjanjikan, pengembangan di sektor ini bukan tanpa tantangan. Joegianto
menjelaskan, salah satu tantangan sektor elektronika dan telematika
adalah posisi Indonesia yang masih menjadi tempat transit. Pasar belum
cukup kokoh untuk terbangun.
Tempat transit ini
salah satu dampak dari kebijakan pajak nol persen antara Indonesia dan
India. Banyak negara negara lain yang akan memasukan barang ke India
melewati Indonesia.
"Kompetitor dari luar negeri
dan itu di luar kendali kita. India itu punya aturan TKDN (tingkat
komponen dalam negeri) 35 persen di Indonesia lalu dikasih ke India,
pajaknya nol, itu banyak yang dibelikan ke sini," katanya.
Tantangan
ini, kata dia, perlu aksi dari pemerintah untuk bisa membuat regulasi
yang bisa melindungi para industri lokal. Hal ini dibuat agar produksi
tidak tergerus dan tidak kalah pasar dibandingkan barang barang
transitan ini.
Untuk bisa menghadapi 2019, kata
Joegianto, Polytron mencoba melakukan inovasi dengan melakukan
penelitian dan riset pasar dan kebutuhan teknologi baru. Perusahaan akan
melakukan ekspansi pasar dan melakukan investasi besar-besaran di
R&D. “Bagi Polytron, saat ini R
Komentar
Posting Komentar